Ayam Kampung Pun Dilirik Industri

13 Juni 2012 at 1:21 pm 2 komentar

Keterlibatan swasta dalam pembibitan ayam kampung skala besar sudah menjadi tuntutan. Sandungan Perpres masih mengundang pertanyaan

Di atas lahan seluas 1,2 hektar di Kampung Bepak, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Sukabumi itu berdiri kompleks peternakan pembibitan dengan 10 kandang battery yang dipenuhi tak kurang 17 ribu ayam kampung, dan sekitar 5 % diantaranya pejantan. Sebagai produsen DOC (anak ayam umur sehari) kompleks dilengkapi dengan hatchery (kamar penetasan) berkapasitas mesin 115.200 butir dan daya tetas 80 – 85 %.

Ayam-ayam indukan di kandang-kandang tersebut adalah hasil seleksi panjang yang dilakukan Kelompok Unggul Pusat Perbibitan Ayam Kampung (KUPPAK). Menurut penjelasan Sigit Widodo, Ketua KUPPAK, bersama Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor pihaknya melakukan riset sejak 2005. Dan produksi massal sebagai produsen DOC atau breeding untuk diperdagangkan terhitung mulai 2010.

Seleksi dilakukan dari ayam-ayam kampung unggul, antara lain ayam pelung, kedu, sentul dan terakhir gauk dari Madura. Belasan ribu ayam generasi ke-3 hasil seleksi itu kemudian ditahbiskan sebagai indukan (Parent Stock/PS) yang memproduksi telur tetas. Hasilnya, berupa DOC final stock yang dilepas ke peternak untuk dibesarkan sebagai pedaging.

Usaha pembibitan ayam kampung yang dikelola Sigit ini merupakan usaha dia dengan status kepemilikan bersama rekannya Tutum Rananta dan Kepraks (Kelompok Peternak Ayam Kampung Sukabumi). Ia mengaku, saat ini mampu menghasilkan 140 ribu DOC setiap bulannya atau 35 ribu per pekan. Angka ini masih jauh di bawah permintaan yang masuk. “Tiap bulan, permintaan yang datang mencapai 250 ribu DOC,” sebut Sigit.

Akhir tahun ini ia menargetkan peningkatan kapasitas produksi menjadi 200 ribu ekor DOC per bulan. Konsekuensinya, induk akan didongkrak menjadi 24 ribu ekor dan 1.200 ekor diantaranya adalah pejantan.

Selain itu, ia menargetkan, akhir tahun ini produksi DOC ayam sentul mencapai rasio 50 % dari total produksi, dan pertengahan 2013 produksinya 100 % DOC ayam sentul. Ia menjelaskan, saat ini produk yang dijual utamanya DOC ayam kampung biasa dan sebagian DOC ayam sentul. Terdapat 2 macam DOC ayam sentul yang dipasarkan, yaitu kombinasi warna abu – abu dan merah; serta kombinasi warna abu – abu dan putih.

Berburu Calon Induk Jauh sebelum pembibitan yang dikelola Sigit berdiri, “Jimmy Farm” yang berlokasi di Cipanas Puncak, Bogor sudah dikenal luas peternak ayam kampung sebagai pemasok DOC. Dan diakui sebagai pionir produsen DOC ayam kampung berskala besar.

Menurut keterangan Benny Arifin, pemilik Jimmy Farm pihaknya mulai terjun di ayam kampung sejak 1998. Sebelumnya ia adalah pembibit DOC broiler yang gulung tikar karena dihantam badai krismon kala itu. Infrastruktur yang ada kemudian dikembangkan untuk memproduksi DOC ayam kampung.

Tetapi tak hanya jadi pemain di pembibitan, “Jimmy Farm” juga mengembangkan pembesaran. Disebut Yohan Kurniawan ManajerJimmy Farm, populasi indukan terkini adalah 14 ribu. “Total seluruh populasi 36 ribu termasuk pejantan, DOC dan pembesaran,” ujarnya. Dan produksi DOC di kisaran 18 ribu – 20 ribu ekor per pekan.

Berbeda dengan Sigit, yang memproduksi sendiri indukan, perusahaan pembibitan Jimmy Farm harus berburu bibit ayam ke pelosok-pelosok tanah air. Yohan mengaku, tidak gampang mencari bibit ayam kampung. Ia harus  mencari “darah baru” untuk menghindari inbreeding (kawin sedarah). “Selalu cari informasi di daerah mana ada, lalu saya ambil dalam bentuk DOC agar aman karena bisa divaksin sejak dini,” jelas Yohan. Ia membenarkan, kini semakin sulit mendapatkan bibit ayam kampung berkualitas. Terhitung sejak 1998 ia sudah 7 – 8 kali mengganti indukan dengan memasukkan darah baru.

Menurut Benny, breeding ayam kampung tidak bisa satu jenis, mau tidak mau harus kawin silang agar tidak inbreeding. “Sumber ayam kampung bisa dari daerah Jawa, Sumatera atau Kalimantan,” sebutnya. Ia mensyaratkan pengusaha breeding harus tahu jenis dan kualitas ayam kampung calon bibitnya. Ia pun berburu ke daerah asal dan langsung ke peternak lokal. Benny tak mempersoalkan kemurnian ayam yang dicarinya. “Yang penting ayam kampung,” ucapnya. Kualitas ia mampu menilai dengan melihat fisiknya. Misalnya, bentuk dada V tidak U seperti broiler dan warna khas ayam kampung. Berbagai strain dari ayam kampung itu lah yang kemudian ia kawinkan silang.

Benny pun mengakui selain persoalan sulitnya mendapatkan bibit, usaha breeding skala besar menurut dia banyak tantangannya. Risiko tinggi, tidak bisa menyepelekan kualitas karena pertaruhannya terlalu besar, dan pasti perputaran bisnisnya (return of investment/ROI) tak secepat di segmen pembesaran.

Target 400 juta DOC Usaha pembibitan skala besar sebagaimana Jimmy Farm, atau terpadu dengan pemuliaan seperti dilakoni Sigit dan kawan-kawan merupakan kontribusi penguatan pengembangan usaha peternakan ayam kampung nasional. Produksi DOC ayam kampung sejauh ini tertatih-tatih. Ade Zulkarnaen, Ketua Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) mengatakan, selama ini peternak pembesaran untuk memenuhi permintaan konsumsi, kerap kesulitan mempertahankan kontinuitas usahanya.

Selepas panen satu siklus, peternak terpaksa menganggurkan kandangnya dikarenakan tidak adanya pasokan DOC untuk dibudidayakan periode berikutnya. Biasanya harus masuk daftar tunggu dari pembibit dan dua bulan kemudian baru chick in (masuk DOC). Tak jarang lamanya menunggu menyebabkan dana yang semestinya untuk membeli DOC habis terpakai keperluan lain. ”Akhirnya berhenti beternak,” sesal Ade.

Belum lagi soal kualitas. Sudah mendapatkan DOC pun, mutu DOC kerapkali tidak standar. Pasalnya, pembibit yang kebanyakan juga peternak tradisional masih cenderung abai akan kualitas. Produksinya jauh dari kaidah GBP (Good Breeding Practice). Meskipun, imbuh Ade, Himpuli terus melakukan sosialisasi menggeser pola peternakan dari tradisional ke semi-intensif dan intensif.

Padahal, sebagaimana  diterangkan Ade, Himpuli punya obsesi besar bersama pemerintah menggadang program menjadikan unggas lokal sebagai tuan di negeri sendiri. Targetnya, pada 2019 mampu berkontribusi mengisi 25 % total kebutuhan daging unggas nasional. Artinya sedikitnya 400 – 450 juta DOC ayam kampung harus disiapkan dalam setahun.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012

Adapted from: trobos

About these ads

Entry filed under: Peternakan. Tags: , , , , , .

Memuliakan Ayam Kampung Kandang Modifikasi demi Produksi dan Efisiensi

2 Komentar Add your own

  • 1. jalu  |  26 September 2012 pukul 1:04 pm

    good

    Balas
  • 2. suryawan ajie  |  2 April 2013 pukul 3:00 pm

    wah ,klw begitu bagaimana klw kita kerja sama dlm pengadaan indukan ayam kampung,,,saya sangat tertarik skl dg usaha ini dan insya Alloh bisa terjalin kerja sama yang langgeng,,,

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Arsip

Jejaring Sosialku

Twitter Terbaru


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 669 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: