Perbedaan Gempa di Aceh pada 2004 dan 2012

15 April 2012 at 2:23 am Tinggalkan komentar

Gempa Aceh 2004 dan gempa Aceh 2012 berbeda jauh. “Jika dulu lokasi gempa ada di sepanjang zona subduksi pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, gempa saat ini berlokasi hanya di lempeng Indo-Australia,” kata ahli tsunami Subandono Diposaptono di Jakarta, Rabu (11/4).

Dikatakan Direktur Tata Ruang Laut dan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan, pusat gempa sekarang sekitar 175 kilometer lebih ke selatan. Dengan demikian, gempa Aceh yang terjadi kali ini merupakan gempa intraplate, bukan interplate seperti gempa Aceh berkekuatan 9,1 skala Richter pada 26 Desember 2004. Gempa intraplate tidak menyebabkan tsunami yang besar seperti halnya gempa interplate yang berada di zona subduksi.

“Gempa Aceh 2004 menyebabkan tepian dari lempeng Indo-Australia melenting ke atas sepanjang 1.300 kilometer tegak lurus zone penunjaman tempat lempeng samudra Hindia menyusup di bawah lempeng Eurasia (megathrust), dari mulai Simeuleu sampai Andaman dan membuat air laut surut dan kemudian menghempas ke daratan,” katanya.

Sedangkan, kata Subandono, gempa kali ini hanya menyebabkan gerakan mendatar yang menyebabkan getaran dan riak gelombang di lautan. “Kalaupun ada tsunami paling-paling tingginya hanya 10-20 sentimeter atau paling tinggi tak lebih dari semeter,” katanya.

Subandono juga mengingatkan pentingnya rencana tata ruang wilayah menjadi dasar dari pembangunan, khususnya di kawasan pontensial bencana gempa dan tsunami, sehingga diharapkan mampu meminimalisasi resiko bencana. “Sayang sekali kalau kita sudah bangun kota dengan sebagus-bagusnya, tapi karena tsunami datang lagi, lalu kota kembali hancur, lalu kita harus membangunnya lagi,” katanya.

Ia mencontohkan Jepang yang dilanda gempa 9 SR pada Maret 2011 dan menyebabkan tsunami hingga 10 meter dan menewaskan ribuan korban, namun setahun setelah itu belum ada upaya rekonstruksi. “Pembangunan kembali baru akan dilaksanakan setelah semua rencana sesuai tata ruang berbasis mitigasi bencana sudah matang,” jelasnya.

Rencana tata ruang wilayah, ujar Subandono, lebih penting daripada pembangunan tembok laut atau hutan pantai yang kurang efektif dalam meminimalisasi risiko bencana.(Ant/SHA)

 

Adapted from: Liputan6 Tempo

Entry filed under: Berita, Sains. Tags: , , , , , .

Gempa bumi Samudra Hindia 2004 SDS-PAGE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Arsip

Jejaring Sosialku

Twitter Terbaru


%d blogger menyukai ini: